Dinasti Islam di Nusantara (mulai th 661 M - sekarang) - Part 2
Lanjutan dari Dinasti Islam di Nusantara (mulai th 661 M - sekarang) - Part 1
Kesultanan Cirebon (abad ke-16).
Kesultanan Cirebon (abad ke-16).
Kesultanan Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di
Jawa Barat. Kesultanan Cirebon didirikan pada 1450 oleh Pangeran
Walangsungsang. Tokoh yang paling berperan menjadikan Cirebon sebagai
Kesultanan Islam adalah Syarif Hidayatullah. Sepeninggal Panembahan Girilaya
(1650-1662), Kesultanan Cirebon dibagi menjadi dua oleh kedua anaknya, menjadi
Kesultanan Kasepuhan dan Kesultanan Kanoman. Meskipun tidak mempunyai kekuasaan
administratif, Kesultanan Cirebon tetap bartahan sampai saat ini.
Kesultanan Banjar (abad ke-16).
Kesultanan Banjar merupakan kesultanan Islam yang
terletak di Pulau Kalimantan bagian selatan. Kesultanan ini pada walnya bernama
Daha, sebuah kerajaan Hindu yang berubah menjadi kesultanan Islam. Kesultanan
Banjar berdiri pada 1595 dengan penguasa pertama Sultan Suriansyah. Islam masuk
ke wilayah ini tahun 1470, bersamaan dengan melemahnya kerajaan Maajapahit di
Pulau Jawa. Penyebaran Islam secara luas dilakukan Syekh Muhammad Arsyad
al-Banjari, seorang ulama yang menjadi Mufti Besar Kalimantan. Kesultanan
Banjar mengalami kemunduran dengan terjadinya pergolakan masyarakat yang
menentang pengangkatan Pangeran Tamjidillah (1857-1859) sebagai sultan oleh
Belanda. Pada 1859-1905, terjadi perang Banjar yang dipimpin Pangeran Antasari
(1809-1862) melawan Belanda. Akibat dari perang ini, Belanda menghapuskan
Kesultanan Banjar pada 1860. Peninggalan sejarah Kesultanan Banjar dapat
dilihat dari bangunan masjid di Desa Kuin, Banjar Barat (Banjarmasin) yang
dibangun pada masa pemerintahan Sultan Tamjidillah.
Kesultanan Banten (abad ke-16).
Kesultanan ini adalah kesultanan terbesar di Jawa
Barat. Kesultanan Banten didirikan Sunan Gunung Jati pada 1524. Pada masa
pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, Islam telah mengalami perkembangan pesat.
Hal ini ditandai dengan berdirinya bangunan masjid dan pesantren. Kesultanan
Banten mencapai masa keemasannya di masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa
(1651-1683).
Kesultanan ini mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan Belanda. Peninggalan Kesultanan Banten berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.
Kesultanan ini mengalami kemunduran setelah terjadi perang melawan Belanda. Peninggalan Kesultanan Banten berupa Masjid Agung Banten, Menara Banten, Benteng Speelwijk, dan bekas Keraton Surosowan.
Kesultanan Buton (abad ke-16).
Kesultanan Buton merupakan kerajaan Islam yang
terletak di Pulau Buton, Sulawesi bagian tenggara. Kerajaan Buton menjadi
kesultanan setelah Halu Oleo, raja ke-6, memeluk agama Islam. Penyebaran Islam
secara luas dilakukan oleh syekh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Patani,
seorang ulama dari Kesultanan Johor. Peninggalan sejarah Kesultanan Buton
berupa Benteng Kraton dan Batupoaro, yaitu batu tempat berkhalwat (mengasingkan
diri) Syekh Abdul Wahid di akhir keberadaannya di Buton.
Kesultanan Goa (abad ke-16).
Kesultanan Goa terletak di sebelah selatan Pulau
Sulawesi. Kerajaan Goa berubah menjadi kesultanan pada akhir abad ke-16, di
masa pemerintahan Sultan Alauddin (1593-1639).
Pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar (1666-1669) meawan Belanda. Kesultanan Goa selanjutnya dikuasai oleh Belanda setelah dipaksa menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya. Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar (Sulawesi Selatan).
Pada masa kepemimpinan Sultan Hasanuddin terjadi perang Makassar (1666-1669) meawan Belanda. Kesultanan Goa selanjutnya dikuasai oleh Belanda setelah dipaksa menyerah dan menandatangani Perjanjian Bongaya. Peninggalan Kesultanan Goa berupa kompleks makam Sultan Goa dan bekas rumah Sultan Goa terakhir di Makassar (Sulawesi Selatan).
Kesultanan Johor (abad ke-16).
Kesultanan Johor berdiri setelah Kesultanan Malaka
dikalahkan oleh Portugis. Sultan Alauddin Riayat Syah membangun Kesultanan
Johor pada sekitar tahun 1530-1536. Masa kejayaan kesultanan ini terjadi pada
masa pemerintahan Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II. Kesultanan Johor
memperkuat dirinya dengan mengadakan sebuah aliansi bersama Kesultanan Riau
sehingga disebut Kesultanan Johor-Riau. Kesultanan Johor-Riau berakhir setelah
Raja Haji wafat dan wilayah tersebut dikuasai oleh Belanda.
Kesultanan Kutai (abad ke-16).
Kesultanan Kutai terletak di sekitar Sungai Mahakam,
Kalimanta bagian timur. Pada awalnya, Kutai merupakan kerajaan yang dipengaruhi
ajaran Hindu dan Buddha. Islam berkembang pada masa kepemimpinan Aji Raja
Mahkota (1525-1600).
Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1780-1850) memerintah. Kesultanan Kutai mengalami kemunduran setelah Aji Sultan Muhammad Salehuddin meninggal dunia. Peninggalan sejarah Kesultanan Kutai berupa makam para sultan di Kutai Lama (dekat Anggana).
Penyebaran Islam dilakukan oleh seorang mubalig bernama Said Muhammad bin Abdullah bin Abu Bakar al-Warsak. Kesultanan ini mencapai kejayaannya pada masa Aji Sultan Muhammad Salehuddin (1780-1850) memerintah. Kesultanan Kutai mengalami kemunduran setelah Aji Sultan Muhammad Salehuddin meninggal dunia. Peninggalan sejarah Kesultanan Kutai berupa makam para sultan di Kutai Lama (dekat Anggana).
Kesultanan Pajang (abad ke-16).
Kesultanan Pajang merupakan kerjaan Islam pertama di
pedalaman Jawa. Kesultanan ini didirikan oleh Joko Tingkir pada 1546, setelah
Trenggono, Sultan Demak, wafat. Joko Tingkir atau Sultan Adiwijaya membawa
pengaruh Islam dari wilayah pesisir ke wilayah pedalaman Jawa. Kesultanan
Pajang hanya bertahan selama 45 tahun karena dihancurkan oleh Kesultanan
Mataram pada 1618. Peninggalan Kesultanan Pajang berupa makam Pangeran Benowo.
Kesultanan Mataram (abad ke-16).
Kesultanan Mataram beridiri sejak 1582. Kesultanan ini
berawal dari wilayah Kesultanan Pajang yang dihadiahkan oleh Sultan Adiwijaya
kepada Kiai Ageng Pamanahan. Sultan pertama Mataram adalah Panembahan Senopati
(1582-1601).
Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram tercapai pada masa kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645).
Kesultanan Mataram melemah setelah terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan pihak Belanda. Kesultanan Mataram selanjutnya terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalan Kesultanan Mataram antara lain berupa pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.
Puncak kekuasaan Kesultanan Mataram tercapai pada masa kepemimpinan Sultan Agung (1613-1645).
Kesultanan Mataram melemah setelah terjadi perpecahan wilayah akibat Perjanjian Giyanti serta campur tangan pihak Belanda. Kesultanan Mataram selanjutnya terbagi menjadi empat wilayah yaitu Kesultanan Yogyakarta, Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Mangkunegara. Peninggalan Kesultanan Mataram antara lain berupa pintu gerbang Masjid Kotagede di Yogyakarta.
Kesultanan Palembang (abad ke-16).
Pada awalnya, Kesultanan Palembang termasuk dalam
wilayah kekuasaan Kesultanan Demak. Sultan pertama sekaligus pendiri Kesultanan
ini adalah Ki Gendeng Suro (1539-1572).
Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang menetap di Palembang. Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena letaknya yang strategis. Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin. Salatu satu peninggalan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan pada masa kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.
Pengetahuan dan keilmuan Islam berkembang pesat dengan hadirnya ulama Arab yang menetap di Palembang. Kesultanan Palembang menjadi bandar transit dan ekspor lada karena letaknya yang strategis. Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Palembang setelah berhasil mengalahkan Sultan Mahmud Badaruddin. Salatu satu peninggalan Palembang adalah Masjid Agung Palembang yang didirikan pada masa kepemimpinan Sultan Abdur Rahman.
Kesultanan Bima (abad ke-17).
Kesultanan Bima adalah kerajaan Islam yang terletak di
Pulau Sumbawa bagian timur. Kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan Islam pada
1620 setelah rajanya, La Ka'i, memeluk agama Islam dan mengganti namanya
menjadi Sultan Abdul Kahir. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Khair
Sirajuddin (1640-1682), Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam kedua di
timur Nusantara setelah Makassar. Kesultanan Bima berakhir pada 1951, ketika
Muhammad Salahuddin, sultan terakhir, wafat. Peninggalan Kesultanan Bima antara
lain berupa kompleks istana yang dilengkapi dengan pintu lare-lare atau pintu
gerbang kesultanan.
Kesultanan Siak Sri Indrapura (abad
ke-18).
Siak Sri Indrapura adalah sebuah kesultanan Melayu,
didirikan (1723) oleh Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah, dan penyebarab Islam di
Sumatera Timur. Pusatnya adalah Desa Buantan, kemudian pindah ke Siak Sir
Indrapura (sekitar 90 km ke timur laut Pekanbaru).
Wilayah kekuasaan Siak Sri Indrapura meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko, Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan (Kampar); Pekanbaru; dan sekitarnya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupakan salah satu objek pariwisata di daerah Riau.
Wilayah kekuasaan Siak Sri Indrapura meliputi Siak Asli, Bukit Batu, Merbau, Tebing Tinggi, Bangko, Tanah Putih dan Pulau Bengkalis (Kabupaten Bengkalis); Tapung Kiri dan Tapung Kanan (Kampar); Pekanbaru; dan sekitarnya. Istana bekas tempat tinggal dan pusat Kesultanan Siak Sri Indrapura sampai sekarang masih berdiri dengan megah di pinggir Sungai Siak dan merupakan salah satu objek pariwisata di daerah Riau.
Referensi
- Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Prof. Dr. Abdul Aziz Dahlan, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, etc. Ensiklopedi Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2005.
- Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA, Dr. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, MA, Dr. A. Chaeruddin, SH., etc. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Penerbit PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2008, Editor : Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, Prof. Dr. H. Ahmad Sukardja, MA.
- Sami bin Abdullah bin Ahmad al-Maghluts, Atlas Sejarah Para Nabi dan Rasul, Mendalami Nilai-nilai Kehidupan yang Dijalani Para Utusan Allah, Obeikan Riyadh, Almahira Jakarta, 2008.
- Dr. Syauqi Abu Khalil, Atlas Al-Quran, Membuktikan Kebenaran Fakta Sejarah yang Disampaikan Al-Qur'an secara Akurat disertai Peta dan Foto, Dar al-Fikr Damaskus, Almahira Jakarta, 2008.
- Tim DISBINTALAD (Drs. A. Nazri Adlany, Drs. Hanafi Tamam, Drs. A. Faruq Nasution), Al-Quran Terjemah Indonesia, Penerbit PT. Sari Agung, Jakarta, 2004
- Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penerjemah/Penafsir Al-Quran, Syaamil Al-Quran Terjemah Per-Kata, Syaamil International, 2007.
- alquran.bahagia.us, al-quran.bahagia.us, dunia-islam.com, Al-Quran web, PT. Gilland Ganesha, 2008.
- Muhammad Fu'ad Abdul Baqi, Mutiara Hadist Shahih Bukhari Muslim, PT. Bina Ilmu, 1979.
- Al-Hafizh Zaki Al-Din 'Abd Al-'Azhum Al Mundziri, Ringkasan Shahih Muslim, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, dan PT. Mizan Pustaka, Bandung, 2008.
- M. Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 2008.
- Al-Bayan, Shahih Bukhari Muslim, Jabal, Bandung, 2008.
- Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Kemudahan dari Allah, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, dan Gema Insani, Jakarta, 1999.
0 komentar